Cunningham69loomis website

Our website

07
Fe
Pemahaman Aqiqah Menurut Kepercayaan Islam
07.02.2017 05:51

Dari sisi bahasa ‘Aqiqah artinya: mengotes. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, sebab dipotongnya sosial binatang secara penyembelihan itu. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian sebab lehernya dipotong Ada agaknya yang mengeluarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serat yang ditemui pada penyelenggara si balita ketika ia keluar dari rahim permulaan, rambut ini disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah adalah penyembelihan domba/kambing untuk momongan yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, / 21. Jumlahnya 2 sudut untuk bocah laki-laki & 1 ekor untuk momongan perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Dari Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi seri dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Daripada Aisyah dia berkata: Nabi bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang serupa dan momongan perempuan mono kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih fauna untuknya di dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Daripada Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh berfirman: “Aqiqah dijalankan karena kelahiran bayi, oleh sebab itu sembelihlah fauna dan hilangkanlah semua gangguan darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Dari ‘Amr bin Syu’aib daripada ayahnya, dari kakeknya, Nabi bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi dipastikan hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang sama dan untuk perempuan mono kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW tahu ber ‘aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, sira memberi sebutan dan menitahkan supaya dihilangkan kotoran daripada kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, dalam AI-Mustadrak juz 4, hal. 264]

Keterangan: Hasan serta Husain ialah cucu Rasulullah saw SAW.

Dari Fatimah binti Muhammad tatkala melahirkan Patut, dia mengatakan: Rasulullah berkata: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan galuh kepada orang-orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, dan al-Baihaqi]

Mulai Abu Buraidah r. a.: Aqiqah ini disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, / kedua puluh satunya. (HR Baihaqi serta Thabrani).

Pedoman Aqiqah Bujang adalah sunnah (muakkad) pantas pendapat Kepala Malik, warga Madinah, Imam Syafi'i & sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan mayoritas ulama cakap fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai oleh kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai substansi yang sunnah muakkadah ialah hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai beserta aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan guyur darinya tahi kotok (Maksudnya bercukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Perkataan: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah rodi, namun sungguh bersifat tetap, karena siap sabdanya yang memalingkan daripada kewajiban ialah: “Barangsiapa diantara kalian terselip yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, maka silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Serbuk Dawud serta An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan informasi yang menjungkalkan perintah yang pada dasarnya tentu menjadi sunnah.

Imam Tuan berkata: Aqiqah itu sebagaimana layaknya nusuk (sembeliah kompensasi larangan haji) dan udhhiyah (kurban), gak boleh pada aqiqah ini hewan yang picak, mersik, patah tulang, dan linu. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Dan harus dihindari dalam satwa aqiqah tersebut cacat-cacat yang tidak diperbolehkan pada qurban.

Buraidah berkata: Lepas kami pada masa jahiliyah apabila cela seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih wedus dan menggores kepalanya dengan darah kambing itu. Oleh karena itu setelah Allah mendatangkan Islam, kami menjagal kambing, menyikat (menggundul) kepala si bayi dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Serbuk Dawud juz 3, sesuatu. 107]

Mulai ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang di masa jahiliyah apabila mereka ber’aqiqah untuk seorang budak, mereka melumangkan kapas secara darah ‘aqiqah, lalu ketika mencukur sabut si bayi mereka melumurkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW menitahkan, “Gantilah sundut itu secara minyak wangi”.[HR. Ibnu Hibban beserta tartib Putra Balban bagian 12, sesuatu. 124]

Menunaikan aqiqah menurut kesepakatan para ulama merupakan hari ketujuh dari kemunculan. Hal ini berdasarkan hadits Samirah di mana Rasul SAW bertitah, “Seorang bani terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh serta diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Dan jika tidak juga, maka dalam hari ke-21 atau saat saja ia mampu. Kepala Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke tujuh (tujuh) kepada dasar panggilan, maka sekiranya menyembelih di hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah ini telah semua. Karena rukun ajaran Islam adalah mempermudah bukan menyulitkan sebagaimana nasihat Allah SWT: “Allah menodong kemudahan bagimu dan gak menghendaki kesulitan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini menurut sabda Rasul SAW, yang artinya: “Setiap anak ini tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, & diberi sebutan. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, & dishahihkan per At Tirmidzi)

Dan jika tidak siap melaksanakannya di hari ketujuh, maka dapat dilaksanakan di dalam hari di empat belas, dan bila tidak dapat, maka pada hari ke dua puluh satu, tersebut berdasarkan hadits Abdullah Putra Buraidah dari ayahnya atas Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah ini disembelih saat hari ketujuh, ke empat belas, serta ke dua puluh tunggal. ” (Hadits hasan sejarah Al Baihaqiy)

Namun setelah tiga ahad masih tidak mampu maka kapan saja pelaksanaannya di kala sungguh mampu, karena pelaksanaan di hari-hari di tujuh, di empat belas kasihan dan di dua persepuluhan satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama tidak wajib. Dan boleh pun melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.

Budak yang menyisih dunia pra hari ketujuh disunnahkan pun untuk disembelihkan aqiqahnya, terutama meskipun budak yang miskram[cak] dengan tuntutan sudah berusia empat kalendar di dalam lembaga ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada ayah si momongan. Namun kalau seseorang yang belum dalam sembelihkan hewan aqiqah sambil orang tuanya hingga ia besar, oleh sebab itu dia sanggup menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan bila tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri jadi hal itu tidak apa-apa menurut beta, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan saat hari ketujuh dari kelahiran. Jika gak bisa, dipastikan pada hari keempat belas. Dan jika gak bisa lagi, maka di dalam hari kedua puluh satu. Selain tersebut, pelaksanaan aqiqah menjadi muatan ayah.

Namun demikian, bahwa ternyata saat kecil ia belum diaqiqahi, ia bisa melakukan aqiqah sendiri dalam saat mendalam. Satu saat al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah pada besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Imam Ahmad menjawab, “Menurutku, kalau ia belum diaqiqahi ketika kecil, oleh karena itu lebih indah melakukannya seorang diri saat mendalam. Aku bukan menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga menilai demikian. Dari sisi mereka, anak-anak yang sudah dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang-orang tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Nominal Hewan

Total hewan aqiqah minimal ialah satu kontrol baik untuk laki-laki ataupun pun untuk perempuan, sesuai perkataan Pelerai demam Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain tunggal domba satu domba. ” (Hadits shahih riwayat Debu Dawud & Ibnu Al Jarud)

Kita harus tegak bahwa Rancak dan Husain adalah keturunan kembar. Maka pada tunggal kelahiran tersebut disembelih 2 ekor wedus.

Namun yang lebih yang utama adalah 2 ekor untuk anak laki-laki serta 1 ekor untuk keturunan perempuan berdasar pada hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW mengharuskan agar dsembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki 2 ekor sedia dan atas anak cewek satu upaya. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang memiliki arti: “Nabi SAW memerintahkan tersebut agar disembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki dua ekor kambing yang sepadan dan mulai anak cewek satu kontrol. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan secara ‘aqiqah

Yang berhubungan dengan sang keturunan

1. Disunnatkan untuk meluluskan nama serta mencukur rambut (menggundul) saat hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir di hari Ahad, ‘aqiqahnya lewat pada hari Sabtu.

2. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor kibas sedang bagi anak perempuan 1 kontrol.

3. ‘Aqiqah ini bahkan dibebankan mendapatkan orang tua si anak, akan tetapi boleh pula dilakukan sambil keluarga yang lain (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah itu hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Elok Mentah / Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan pada kondisi sudah biasa dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor kambing untuk anak laki-laki dan mono ekor kambing untuk keturunan perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Daging aqiqah dikasih kepada tetangga dan sengsara miskin pula bisa diberikan kepada sosok non-muslim. Bahkan jika sesuatu itu dimaksudkan untuk menarik simpatinya & dalam rangka dakwah. Dalilnya adalah firman Allah, “Mereka memberi menjarah orang seman, anak yatim, dan terpidana, dengan perasaan senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada tatkala itu adalah orang-orang kufur. Namun demikian, keluarga pun boleh menghancurkan sebagiannya.

Yang berhubungan beserta binatang sembelihan

1. Dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa memperlakukan apakah pelupuk mata atau puan, sebagaimana tambo di kolong ini:

Atas Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebenarnya ia sudah bertanya menurut Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka tutur beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor kibas dan untuk anak cewek satu upaya kambing. Tidak menyusahkanmu indah kambing ini jantan sekalipun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan kami belum meraih dalil lainnya yang menampakkan adanya satwa selain kibas yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Ruang yang dituntunkan oleh Nabi SAW berdasarkan dalil yang shahih adalah pada hari ke-7 dari kelahiran bani tersebut. [Lihat dalil riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian daging Aqiqah

Sedangkan dagingnya dipastikan dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sekitar dagingnya, serta mensedekahkan beberapa lagi. Syaikh Utsaimin berkata: Dan bukan apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menimba kerabat serta tetangga untuk menyantap santapan daging aqiqah yang sudah matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga sedang kepada kaum muslimin, dan mahir mengundang sobat-sobat dan macam untuk menyantapnya, atau mahir juga dia mensedekahkan segenap. Syaikh Ibnu Bazz berkata: Dan kamu bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya serta memasaknya kemudian mengundang orang-orang yang kamu lihat sedang diundang mulai kalangan nenek, tetangga, teman2 seiman serta sebagian orang faqir untuk menyantapnya, dan hal sedarah dikatakan sama Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Bani

Tidak diragukan lagi bahwa ada hubungan antara makna sebuah nama dengan yang diberi seri. Hal itu ditunjukan dengan adanya sejumlah nash syari yang memproklamasikan hal ini.

Dari Abu Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya”. (HR. harga aqiqah bandung Bukhori 3323, 3324 serta Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menggubris sunah, ia akan memperoleh bahwa makna-makna yang terkandung dalam sebutan berkaitan dengannya sehingga seumpama makna-makna ini diambil darinya dan seumpama nama-nama tersebut diambil mulai makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui imbas nama-nama tentang yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits di bawah tersebut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Awak datang lawan Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: “Siapa namamu? ” Aku elakan: “Hazin” Rasul berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku” Rumpun Al-Musayyib berkata: “Orang itu senantiasa sok keras tentang kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang cantik untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban wali. Di antara nama-nama yang elok yang ranggi diberikan ialah nama nabi penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana sabda beliau: Dari Jabir Ra dari Rasul SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau mempergunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui cara pemberian nama yang baik pendapat ajaran Agama islam, silahkan kelompok:

Memberi Identitas Bayi / Anak Secara Islami


Menyikat Rambut

Membabat rambut adalah anjuran Nabi yang amat baik untuk dilaksanakan pada anak yang baru lahir pada hari ketujuh.

Di dalam hadits Samirah disebutkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terjepit dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi pamor, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik menceritakan bahwa Fatimah menimbang berat rambut Patut dan Husein lalu sira menyedekahkan perak seberat serabut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau bukan. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut mesti dilakukan secara rata; bukan boleh seharga mencukur sebagian kepala dan sebagian yang lain dibiarkan. Pasti lah semakin banyak serabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- semakin besar pun sedekahnya.

Seruan Menyembelih Satwa Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Artinya: Dengan seri Allah, akur Allah terimalah (kurban) atas Muhammad & keluarga Muhammad serta daripada ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa bayi baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Berarti: Aku berlindung untuk keturunan ini secara kalimat Yang mahakuasa Yang Tertib dari sekalian gangguan syaitan dan huru-hara binatang juga gangguan sorotan mata yang dapat menjinjing akibat melorot bagi apa-apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Pikir Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di satu situs memiliki beberapa pelajaran diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW pada meneladani Nabiyyullah Ibrahim PASAK tatkala Tuhan SWT menyelesaikan putra Ibrahim yang tercinta Ismail AS.

2. Dalam aqiqah itu mengandung point perlindungan dari syaitan yang dapat mengganggu anak yang terlahir itu, dan berikut sesuai secara makna hadits, yang mempunyai: “Setiap bujang itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Maka itu Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Yang mahakuasa lebih terjamin dari huru-hara syaithan yang sering mengganggu anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud oleh Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sama aqiqahnya”.

3. Aqiqah adalah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak dalam hari rekapitulas. Sebagaimana Imam Ahmad mengatakan: “Dia tergadai dari menurunkan Syafaat untuk kedua sosok tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan susunan taqarrub (pendekatan diri) menurut Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus sebagai wujud merasai syukur bagi karunia yang dianugerahkan Yang mahakuasa Subhanahu wa Ta’ala beserta lahirnya si anak.

5. Aqiqah serupa sarana mengadakan rasa ribut dalam menjalankan syari’at Agama islam & bertambahnya keturunan mukminat yang hendak memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah memperkuat ukhuwah (persaudaraan) diantara bangsa.

Dan sedang banyak lagi hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah ini.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Debu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin dan diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Abu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Bentala al-Bustoni, beserta judul “Aqiqah” terbitan Sirat Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Make your free website at Beep.com
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!